Di masyarakat kita, masih banyak berkembang pikiran bahwa selaput dara adalah penentu seorang wanita perawan atau tidak. Pikiran tersebut menjadikan selaput dara sebagai simbol kesucian seorang wanita. Jika selaput dara robek, maka wanita dianggap sudah tidak perawan. Kedua hal ini memang masih sangat tabu dibicarakan di sebagian besar masyarakat. Namun sebenarnya ada mitos dan juga fakta yang masih simpang siur terkait dengan selaput dara sebagai penentu keperawanan seorang wanita.

Apa Itu Selaput Dara?

Selaput dara atau hymen merupakan jaringan kulit yang sangat tipis, dan melapisi bukaan pada vagina. Banyak yang mengatakan bahwa selaput dara ini merentang menutupi vagina. Namun sebenarnya, selaput dara memiliki macam-macam tingkat elastisitas dan juga ketebalan, dan memiliki berbeda-beda bukaan yang memungkinkan keluarnya darah menstruasi. Bahkan ada pula wanita yang lahir tanpa memiliki selaput dara.

Bentuk selaput dara wanita juga berbeda, tergantung pada kadar dan juga aktivitas hormon tiap wanita. Namun biasanya bentuk yang paling umum adalah bentuk bulan sabit. Setelah melewati masa pubertas, selaput dara bisa menjadi lebih tebal karena adanya perubahan kadar estrogen ataupun aktivitas tertentu yang dilakukan.

Fungsi selaput dara sendiri masih belum diketahui pasti, namun ada teori yang mengatakan bahwa kehadiran selaput dara berfungsi melindungi bukaan pada vagina dan juga daerah sekitarnya selama masa awal pertumbuhan seorang wanita.

Selaput Dara Robek

Selaput dara robek sampai sekarang masih dijadikan tolak ukur untuk keperawanan wanita. Padahal keperawanan tidak bisa dibuktikan dengan pemeriksaan fisik wanita.

Selaput dara robek biasanya terjadi di saat wanita mengalami seks penetratif (masuknya penis ke vagina) untuk pertama kali. Namun bisa juga hal tersebut tidak terjadi. Robeknya selaput dara bisa menimbulkan pendarahan sementara dan juga rasa yang tidak nyaman. Namun bukan hanya adanya penetrasi saja yang bisa membuat selaput dara robek. Kondisi lain juga bisa membuat robek selaput dara seperti misalnya masturbasi dengan memasukkan jari ataupun mainan seks ke dalam vagina, menggunakan tampon, pemeriksaan vagina, ataupun olahraga seperti senam, menunggang kuda atau bersepeda.

Beberapa wanita bahkan tidak merasakan bahwa selaput daranya sudah robek ketika melakukan hubungan seksual, karena tidak terjadinya pendarahan ataupun rasa sakit ketika selaput dara tersebut robek.

Namun selaput dara juga bisa tidak robek ketika melakukan penetrasi pertama kali. Hal ini bisa terjadi jika seorang wanita tetap menjaga tubuh tetap rileks ketika melakukan hubungan seksual, dan juga tidak terburu-buru melakukannya, sehingga tersedianya lubrikasi vaginal yang cukup.

Jadi jika wanita tidak mengalami pendarahan ketika melakukan hubungan seksual pertama kali, bukan berarti wanita tersebut sudah tidak perawan. Karena tidak ada kaitannya selaput dara robek dengan seorang wanita masih perawan atau tidak. Bisa saja terjadinya pendarahan ketika melakukan hubungan seksual pertama kali terjadi karena selaput dara yang dimiliki wanita tersebut memiliki struktur yang lebih tebal dan juga lebih resisten.

Ketika selaput dara robek, bukan berarti selaput dara ini akan menghilang seiring berjalannya waktu. Karena selaput dara akan tetap ada di dalam tubuh wanita, bahkan setelah robek. Residu jaringan selaput dara tetap akan menempel di dalam vagina setelah berhubungan seksual ataupun setelah proses melahirkan.

Di jaman teknologi yang sudah berkembang seperti sekarang, perkara selaput dara yang sudah robek bukan menjadi persoalan. Karena sudah adanya prosedur khusus yang bisa dilakukan untuk ‘meremajakan’ vagina dan selaput dara wanita. Hal inilah juga yang menjadikan selaput dara bukanlah menjadi patokan keperawanan seorang wanita.